Angkringan Yogyakarta dan Tawaran Pembelajaran di Balik Keberadaannya

Bagi teman-teman yang pernah kuliah di Yogyakarta atau saat ini sedang menempuh kuliahnya, tentu tidak asing lagi dengan keberadaan angkringan. Hampir di setiap sudut Kota Yogyakarta terdapat angkringan yang merupakan tempat makan dengan menu makanan favorit nasi kucing, gorengan, dan kopi joss.

Angkringan berbentuk mirip seperti gerobak bakso, akan tetapi di bagian tengahnya terdapat ruang kosong untuk menaruh menu makanan. Jadi, menu makanan dapat disantap langsung di angkringan tersebut dengan pola tempat duduk mengelilingi sisi gerobak.

Makan di angkringan bukan persoalan duduk manis ketika menyantap makanan, akan tetapi ada keunikan lain yang dapat dijumpai di angkringan. Keunikan tersebut adalah makna sosialisasi dan pembelajaran hidup yang dapat dipetik dari keberadaan sebuah angkringan. Hal-hal unik tersebut akan menjadi tawaran pembelajaran hidup bagi kita semua yang pernah nongki-nongki di angkringan. Berikut tawaran pembelajaran di balik keberadaan angkringan :

Menumbuhkan sikap keramaham melalui perilaku tegur sapa….

Jika sedang berada di angkringan, mau tidak mau pasti kita akan berhadapan dengan para penutur angkringan lainnya. jika angkringannya sepi, minimal kita berhadapan sama dagangnya. Jika baru datang, maka kita akan di berikan senyuman oleh si pedagang angkringan, yang kemudian bertanya kepada kita mau makan dan minum apa.

Hal menarik yang dapat dijumpai, yakni sikap halus yang ditujukan oleh si pedagang angkringan yang kemudian membuat kita harus membalas salamnya dengan sopan dan halus. Hal tersebut bisa dirasakan langsung bagi kalian yang sudah menjabangi angkringan di Kota Yogyakarta.

Melatih sikap kejujuran,, yang jaman ini susah ditemukan….

Makan di angkringan itu bisa melatih kejujuranmu, menu makanan yang ada dapat diambil sendiri (kecuali minuman yang dibuat langsung oleh dagangnya). Menu makanan yang diambil, baik itu nasi kucing (nasi dengan harga seribuan yang sudah dibungkus), tempe tahu goreng, ceker ayam, hingga kerupuk semuanya diambil sendiri.

Setelah makan baru kemudian disebutkan menu apa saja yang sudah diambil. Dagang angkringan kemudian langsung menghitung total biaya yang kamu habiskan. Keseluruhan total biaya tersebut merupakan total dari kejujuran yang kamu ucapkan.

Mematikan sikap apatis terhadap sesama….

Bertemu di angkringan dengan orang yang tidak dikenal, tidak menjaminmu tidak mengobrol dengannya. Bisa saja dia yang menyapamu terlebih dulu. Jangan merasa aneh atau waspada akan kebaikan orang tersebut. Hal tersebut merupakan rutinitas biasa yang sering terjadi di angkringan.

Hal tersebut pula yang menjadikan masyarakat Yogyakarta bisa menerima banyak pelajar dan wisatawan asing dengan ramah dan terbuka. Saluttt dehh guee untuk ini… Hebattt

Dari pedagang angkringan kita bisa belajar akan arti pelayanan….

Di angkringan pada umumnya harga makanan murah, cukup dengan uang 5 ribu rupiah sudah bisa membuat kenyang perut. Harga murah tidak membuat para pedagang angkringan memanfaatkan peluang untuk hanya mengeruk keuntungan saja. Para pedagang angkringan mengerti betul bahwa selain harga murah, kebersihan juga harus tetap diperhatikan.

Perhatikan saja cara penyajian yang dilakukan oleh pedagang angkringan. Mulai dari memasak gorengannya dan menaruh semua menu makanan di tempat yang bersih dan terlindung dari sumber penyakit.
Mau diskusi masalah sosial, politik, hingga cinta, angkringan tempatnya….


Berbagai masalah politik, sosial, hingga cinta selalu menghiasi bahan diskusi dari para penutur angkringan….

Diskusi –diskusi lepas tersebut merupakan simbol dari peradaban pengetahuan suatu masyarakat, dan masyarakat Yogyakarta sudah mencerminkan hal tersebut.

Diskusi di angkringan itu asyik dan bersahabat. Hanya angkringan yang mengerti dan Yogyakarta merupakan kota yang memahami. Memahami suara kecil masyarakat bagi kemajuan suatu bangsa.

Semoga bermanfaat….

Penulis :

Cornelio Aniceto
Mahasiswa Arkeologi Semester 8, UGM
Obrigado

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s