4 Filsuf Periode Yunani yang Menandai Eksistensi Pemikiran Filsafat Barat

Berpikir filsafat artinya berpikir secara mendalam dan kritis terhadap suatu permasalan tertentu. Filsafat lahir sebagai gejolak keheranan manusia terhadap perubahan, baik itu yang berasal dari alam maupun manusia itu sendiri. Berkat akal yang diberikan oleh Tuhan, maka manusia lahir sebagai makhluk yang berusaha mencari kebenaran yang berlaku di atas hidupnya.

Filsafat berasal dari bahasa Yunani Kuno, yakni philosophia dan philosophos yang berarti orang yang cinta akan kebijaksanaan. Istilah Filsafat muncul pada abad ke-6 SM, yang digunakan oleh masyarakat Yunani yang mengklain dirinya sebagai ilmuan yang tau akan segala hal. Pertanyaan filsafat yang bersifat kritis muncul sebab manusia mulai merasakan dirinya berbeda dengan alam dan makhluk hidup di sekitarnya (hewan dan tumbuhan). Dalam masa inilah manusia mulai mempertanyakan siapa dirinya dan dari mana dirinya berasal, serta hubungan dirinya dengan alam dan makhluk hidup lainnya.

Demikian halnya dalam pemikiran filsafat pada periode yunani yang ditandai dengan pemikiran mengenai asal mula alam dan ketidapuasan penjelasan mengenai alam dan manusia. Dalam periode Yunani (600 SM = 400 M), pemikiran filsafat pada dibagi dua, yakni masa pra Socrates dan selepas masa pra Socrates. Untuk itu, akan dipaparkan 6 tokoh filsuf yang memiliki pemikiran yang berpengaruh terhadap arah pemikiran barat dan dunia pada periode yunani.

1. Thales

Thales merupakan filsuf yang mengabaikan peranan mitos dan dewa-dewa Yunani terhadap alam. Thales berpendapat bahwa makhluk hidup berasal dari air dan manusia berkembang dari ikan. Thales memiliki prinsip bahwa hanya terdapat satu zat tunggal yang di dunia yang berfungsi mempertahankan berbagai fenomena alam yang terjadi di dunia.

2. Pythagoras

Filsuf Pythagoras merupakan filsuf yang bersikukuh terdapat bilangan dan angka dalam menciptakan suatu keharmonisan alam dan manusia. Pythagoras sangat yakin bahwa alam dan benda-benda yang terdapat di alam dibuat atas prinsip bilangan. Bagi Pythagoras, jiwa merupakan suatu hal yang tidak dapat mati melainkan akan tetap abadi dan hanya akan berpindah menjadi makhluk hidup lainnya.

Pythagoras juga berkeyakinan bahwa unsur mistik juga berperan dalam memperoleh pengetahuan. Untuk itu, Beliau percaya bahwa matematika dan medis sama pentingnya dalam pemikiran guna mencapai kebenaran atas suatu permasalahan.

3. Hericlitos

Hericlitos merupakan filsuf pada masa yunani sebelum Socrates, di mana beliau memiliki pendapat bahwa segala sesuatu berada dalam perubahan (panta rhei kai uden menei). Filsuf ini berpendapat bahwa manusia bukan berada di dalam dunia, melainkan manusia merupakan bagian dari dunia. Selain itu, Hericlitos juga memiliki pendapat bahwa diri manusia dan dunia merupakan suatu proses yang mengalir dan identik dengan perubahan.

4. Socrates

Filsuf yang satu ini adalah filsuf yang dikenal sangat bijaksana dan dikenal sebagai seorang guru yang selalu mencari kebenaran dan mempertanyakan konsistensi dalam suatu pemikiran. Socrates di kenal karena istilahnya yakni kenalilah dirimu sendiri, artinya kita dituntut untuk dapat mendeskripsikan diri kita sehingga kita dapat lebih mengenai jati diri kita dan arah kecendrungan pemikiran kita. Tujuannya adalah untuk dapat membedakan, melakukan, dan mempertahankan sesuatu yang baik guna mencapai kebaikan pada diri manusia.

Socrates juga percaya bahwa manusia pada saat dilahirkan juga sudah membawa potensi dirinya, yang oleh Socrates dapat segera dikembangkan ketika tumbuh dewasa melalui sistem pendidikan yang mengacu pada bakat dan hobby manusia. untuk itu, Socrates dijuluki sebagai seorang guru yang selalu mencari kebenaran dan juga dijuluki sebagai seorang bidan yang berusaha mengeluarkan kesadaran seorang manusia atas bakat yang dibawanya sejak lahir, baik melalui metode diskusi dan mengajukan pertanyaan untuk mengenali potensi pemikiran anak muridnya.

Selain itu, turut pula lahir 2 Filsuf lainnya yakni, Plato dan Aristoteles. Plato merupakan murid Socrates yang banyak belajar dari pemikiran Socrates dan menuliskannya dalam banyak tulisan. Pemikiran Socrates juga dijabarkan dalam pemikiran yang lebih kontekstual dan aplikatif, sama halnya dengan Aristoteles. Pemikiran ke-2 filsuf ini banyak menyinggung mengenai baik buruknya tindakan atau etika, politik dan negara, demokrasi hingga berbagai permasalah keadilan dan kesehjateraan hidup manusia lainnya di dunia ini.

Demikian tulisan dari saya, selamat membaca…. Salam.

Oleh : Cornelio Aniceto Menezes

Terima kasih

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s