Perdebatan Batas Laut antara Timor Leste dan Australia: ALARM Bagi Pemerintahan Timor Leste

Sebagai suatu negara yang merdeka dan berdaulat pastinya tidak terlepas dari kepemilikan atas wilayah. Daratan maupun perairan, khususnya lautan menjadi bagian terpenting dalam aktivitas bernegara. Untuk itu, menjadi kewajiban Negara untuk menjaga dan melestarikan kekayaan alamnya.

Negara yang berdaulat tentu tidak akan membiarkan sejengkal wilayahnya diambil oleh negara manapun. Beragam usaha sudah pasti akan dilakukan untuk memperjuangkan hak negara atas wilayahnya. Sebagai contoh Negara Indonesia yang pernah beberapa kali berseteru dengan Malaysia, seperti perebutan Sipadan dan Ligitan di tahun 2002 yang dimenangkan oleh Malaysia serta di tahun 2010 perdebatan mengenai Pulau Ambalat. Hal ini merupakan bukti bahwa persoalan batas negara merupakan hal krusial yang dapat memicu terjadinya konflik.

Demikian halnya dengan Negara Timor Leste yang saat ini sedang menggalangkan dukungan dari beberapa negara, seperti Indonesia, Portugal, maupun Amerika dalam menghadapi klaim Australia terhadap batas laut Timor Leste. Berdebat maupun mencari persoalan dengan Australia adalah sesuatu yang cukup berani yang sedang dilakukan oleh pemerintah Timor Leste saat ini. Alasannya sederhana karena Australia banyak berkontribusi atas kemerdekaan Timor Leste. Namun apa hendak dikata, mengingat persoalan batas laut tersebut berkaitan erat dengan celah timor yang merupakan mesin penggerak APBN Timor Leste, tentu mau tidak mau, suka tidak suka harus diperjuangkan.

Hal ini sangat dilematis dan sangat rentan terhadap masa depan Timor Leste, beberapa petinggi Negara Timor Leste seperti Ramos Horta, Mari Alkatiri, dan Xanana Gusmao juga angkat bicara guna meluruskan kepemilikan atas batas laut Timor Leste. Pertanyaannya apakah cara demikian akan berhasil? penulis tentunya berharap akan berhasil kerana menggalang dukungan dari beberapa Negara. Namun di sisi lain, penulis memiliki anggapan lain akan klaim Australia terhadap batas laut Timor Leste, yang penulis anggap sebagai suatu ALERM ATAU BUNYI PERINGATAN AKAN MASA DEPAN TIMOR LESTE.

Sebagai generasi muda Timor Leste, penulis tentu menginginkan yang terbaik bagi ketahanan dan masa depan Timor Leste. Untuk itu, penulis memiliki 3 langkah taktis yang sebaiknya perlu direnungkan oleh kita sebagai generasi Timor Leste :

1. Menciptakan Sumber APBN Lain, Selain Minyak

Minyak hingga saat ini masih menjadi komoditi utama penggerak mesin APBN Timor Leste. Hal ini cukup beresiko mengingat minyak merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Harga minyak dunia saat ini turun, tentu berimbas pada ekonomi Timor Leste, apalagi jika minyak tersebut nantinya berkurang dan habis. Hal ini dapat menyebabkan macetnya penyelenggaraan negara mengingat hampir 80 % dana APBN berasal dari minyak.

Maka diperlukan penciptaan sumber APBN lain, selain minyak. Katakanlah dari segi pertanian (beras, jagung, kopi) dan peternakan (ayam, sapi, babi) sebagian masyarakat Timor Leste masih berkebun dan berternak, akan tetapi secara subsisten dan nomadhen. Tentu diperlukan peran pemerintah Timor Leste untuk menggalang pembinaan pertanian dan peternakan yang baik sehingga dapat menciptakan kualitas pertanian dan peternakan yang dapat diandalkan untuk ketahanan pangan dalam negeri. Hal tersebut setidaknya dapat menghemat dana belanja APBN untuk kebutuhan pangan. Dengan harapan lain, jika terus digiatkan dan dikembangkan maka diharapkan sektor pertanian dan peternakan dapat menjadi komoditi ekspor guna menambah devisa negara.

Hal ini masih menyinggung aspek pertanian dan perternakan, belum merambah aspek lainnya. baik itu, Usaha kecil menengah, Pariwisata, serta pengeloaan pajak yang baik dan benar.

2. Amandemen Undang-Undang dan Peraturan Hukum

Hingga saat ini penulis mengamati masih terdapat persoalan krusial dari segi undang-undang dan hukum. Sebagai contoh dalam undang-undang tidak dijelaskan Timor Leste menganut agama resmi apa? dan dalam peraturan hukum terdapat pelanggaran dalam bentuk korupsi dan nepotisme yang merajalela.

Sebaiknya undang-undang dan peraturan hukum dibuat sinergi baik dalam pelaksanaan maupun dalam hal pemberlakuan sangsi. Penulis memang bukan ahli hukum, akan tetapi sebuah negara tentu memerlukan Hukum yang adil, hal ini penting tidak hanya dalam hal mengendalikan pemerintahan, akan tetapi juga dalam hal kenyamanan dalam bernegera hingga dapat menciptakan kualitas manusia yang berkarakter dan berbudaya.

3. Konsep Pendidikan dengan Mengacu pada Agama dan Budaya

Aspek terakhir ini erat kaitannya dengan pembangunan sumberdaya manusia. Tidak dapat dipungkiri negara-negara maju seperti Amerika, Japan, maupun Jerman sangat bergantung pada kualitas sumberdaya manusia bukan pada sumberdaya alam.

Saat ini penulis mengamati konsep pendidikan di Timor Leste belum mengacu pada pendidikan Agama dan kebudayaan. Konsep pendidikan masih mengadopsi pola dari Portugal, baik dari bahasa hingga penerapan kurikulum. Selain itu pendidikan agama dan pendidikan budaya (pendidikan muatan lokal kalau di Indonesia) belum dimasukan ke dalam rumusan pendidikan di Timor Leste. Hal tersebut sebaiknya perlu dicermati ulang, karena jika ingin memiliki sumberdaya manusia yang dapat diandalkan, maka pendidikan menjadi sangat penting.

Jika kita kuat dari sumber APBN, kemudian dari segi Aturan hukum dan perundangan, dengan ditunjang kualitas manusia yang tangguh, tentu akan berdampak positif bagi masa depan Timor Leste.

Oleh : Cornelio Aniceto Menezes

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s