CERITA HATI ANAK-ANAK WNI EKS TIMOR-TIMUR DI INDONESIA (GENERASI 1990 KEATAS)

Di suatu kesempatan, ada seorang anak bertanya pada Bapaknya, Pa, kenapa kita tinggal di sini? Kenapa kita tidak kembali saja dan tinggal di tanah kelahiran kita?? Sejenak sang ayah terdiam dan berpikir. Dari raut wajah dan sinar mata sang ayah, sepertinya tidak ada jawaban yang pas untuk disampaikan kepada anaknya. Dalam hati sang ayah hanya termenung jawaban kecil “Nak mungkin suatu saat kamu akan paham”. Tanpa paksaan dan tanpa sadar pertanyaan itu pun tidak terjawab bertahun-tahun dan sang anak kembali bermain kemudian sang ayah sibuk dengan pekerjaannya.

Sekian tahun berlalu, bangku sekolah dasar, bangku sekolah menengah pertama, hingga bangku sekolah menengah atas, semua sudah dijajal oleh sang anak, Entah sudah berapa upacara bendera yang pernah diikuti oleh sang anak. Tak ada paksaan, semua cair dan berlalu begitu saja. Hingga pada suatu kesempatan, sang anak bertemu dengan saudara-saudara Ibunya. Hanya tersenyum yang mungkin banyak keluar dari raut sang anak, Ibu mengapa mereka tidak mengerti bahasa Indonesia, “kilah sang anak di saat renggang berkumpul”, ibunyanya pun menjawab “Nak itu karena di Timor uda gak pakek Bahasa Indonesia”. Sejenak si anak terdiam sambil mengiyakan jawaban sang Ibu. Momen berkumpul pun berlanjut, suasana hangat dan penuh rindu seperti cepat sekali berlalu.

Pada waktunya tiba sang anak untuk menempuh bangku kuliah dan menjadi mahasiswa. Kedua orang tua pun dihadapkan pada perubahan sikap dan cara berpikir sang anak yang juga sang mahasiswa. Di sela-sela waktu, sang anak berpikir akan banyak pertanyaan yang sempat terlontar dari berbagai manusia yang pernah ditemui, begini pertanyaannya “Kamu asal dari mana”? kenapa kox bisa di sini?? Hmmm ada KTP ,, mudah rasanya menjawab pertanyaan itu, tapi tidak dengan memahami pertanyaan itu.

Akhirnya sang anak mulai mencoba mencari tau akan sejarah tanah kelahirannya. Membaca, mencari lewat internet, hingga mendengarkan dan mempelajari segala peristiwa aktual yang sedang berlangsung di tanah kelahirannya. Dalam hati kecilnya ada rasa ingin tau yang sangat besar, entah bagaimana itu bisa terjadi, tapi seperti itulah yang terjadi. Saat bertemu dengan sang ayah, terkadang hal tersebut menjadi bahan diskusi yang apik, meskipun kalau dipikirkan kita sedang berdiskusi mengenai tanah sendiri dan bukan negara kita. Rasanya bukan main campur aduknya, “TANAH SENDIRI TAPI BUKAN NEGARA KITA” . Dibilang percuma, mungkin tidak juga, tapi kalau dibilang rugi, juga tidak, justru mungkin perasaan senang yang kami rasakan.

Beberapa literatur dan sumber pengetahuan yang diperoleh oleh si anak, kian hari menjadikannya sedikit mengerti mengenai sejarah dan perubahan yang sudah terjadi di tanah kelahirannya.

Hingga di suatu sore yang nikmat, sambil nyante dan ngeteh, si anak menghampiri orang tuanya dan bertanya “Pa Ma, nanti kalau uda tamat aku bisa kerja gak di Timor? Orang tua hanya menjawab “sudah kamu sekolah dulu yang pintar, nanti baru kita atur”. Sekali lagi si anak mengiyakan jawaban kedua orang tuanya.

Waktu pun tak lama berdiam, kini sang anak telah selesai menempuh pendidikan dan memutuskan untuk sejenak kembali melihat dan bermain dengan sanak keluarganya di Timor. Bukan main perasaan waktu itu ketika si anak tiba di Bandara Internasional Nicolao Lobato, karena ada yang menghampiri dan langsung menanyakan pasport timor, untungnya ada sang kenalan yang menyatakan bahwa adik ini memakai pasport Indonesia. Dari situlah ada perbedaan yang kembali mengingatkan si anak akan pertanyaan-pertanyaan masa kecilnya kepada orang tuanya.

Namun apalah arti semua itu karena sebentar lagi akan bertemu keluarga, Cuma itu yang ada dipikiran si anak. Hingga tiba si anak di rumah besar keluarga ayahnya, di sana si anak dijamu layaknya seperti anak mereka sendiri. Sempat juga berbicara mengenai masa depan si anak, apakah akan di Timor Leste atau di Indonesia, namun tidak serius dan hanya selingan saja. Tapi dari jawaban yang muncul, sepertinya sangat meyakinkan si anak untuk kembali, berkeja, dan mengabdi di tanah kelahirannya. Beberapa hari kemudian, hal yang berbeda muncul saat si anak bermain di rumah Neneknya. Si Nenek mengatakan yang intinya kalau mau kembali di sini tolong dipikirkan dengan matang karena Nenek sendiri juga masih memegang KTP Indonesia ( jadi semacam memiliki 2 warga negara). Jawaban si Nenek dengan pihak keluarga lain sangat bertolak belakang. Namun si anak hanya diam, dan untuk kesekian kalinya mengiyakan apa pun itu.

Hingga suatu hari, si anak bermain di rumah keluarga Neneknya, sebelum berangkat pihak keluarga mengingatkan kepada si anak kalau keluarga yang akan kita kunjungi ini adalah keturunan ningrat Portugal. Sesampainya di sana, si anak di jamu dengan hangat dan layaknya keluarga. Ketika di tanya oleh keluarga tersebut, mau lanjut S2 atau kerja, si anak menjawab mungkin lanjut S2 dulu. Keluarga tersebut mendukung dan langsung menjawab, nanti kalau uda tamat jangan kerja di sini (iha ne ema ladiak ida), si anak hanya tersenyum dan dalam hatinya muncul banyak pertanyaan. Nampaknya ada perbedaan pandangan yang sulit untuk dipahami.

3 bulan lebih sudah berlalu, kini waktunya sang anak kembali ke Indonesia. setibanya di Indonesia, diceritakan semua apa yang sudah dirasakan di Timor. Tapi tanpa pernah si anak bertanya mengenai perbedaan politik yang sangat kompleks yang ada di Timor Leste. Nampaknya si anak sudah mulai pintar untuk beradaptasi dengan apa yang sebelumnya tidak dipahaminya seperti ini.

Siang itu, si anak membuka internet, dan melihat di kutipan facebooknya ada seseorang yang menandakan sebuah video di hari kemerdekaan Indonesia. Dalam video tersebut ada seorang Bapak yang kini telah berusia hampir separuh abad dan tinggal di suatu Desa di Atambua dekat perbatasan RI dan RDTL. Wartawan yang mewawancarai Bapak tersebut kemudian bertanya, Pak mengapa Bapak meninggalkan tanah kelahiran Bapak untuk tinggal di sini? Si Bapak dengan raut muka yang sedih masih tidak bisa menjawab pertanyaan itu, kemudian si Bapak menceritakan jawaban lain untuk mengalihkan pertanyaan tersebut. Wartawan tersebut kembali bertanya dengan pertanyaan yang lain, Apakah bapak mau kembali suatu hari nanti ke Keluarga Bapak di Timor Leste?? Si bapak sambil menunduk dan dengan suara setengah terharu menjawab “iya tapi saya mau kembali, tapi tunggu merah putih kembali dulu baru saya kembali”. Bukan main sedihnya si anak menonton tayangan video tersebut.

Tapi si lain sisi, komentar yang ada di bawah tanyangan video tersebut sangat keras dan terkesan menghujat si Bapak. Namun sepertinya si anak juga tidak marah karena yang memberi komentar tersebut juga masih orang Timor. Tapi dalam benak si anak, sedikit demi sedikit mulai paham.

Hampir 20 tahun si anak tinggal di Indonesia dan sudah mulai mengerti akan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana tentunya harus bersikap. Sampai pada kesempatan di suatu hari,pihak keluarga mendengar bahwa Uskup Belo, mantan Uskup Timor-Timur akan datang ke Bali untuk membuat perayaan ekaristi.

Sebagian besar seluruh keluarga besar WNI eks Tim-Tim yang ada di Bali datang dan mengikuti perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Belo. Tapi tidak dengan si anak, pada hari itu Dia memutuskan untuk mengikuti perayaan misa hari minggu di dekat rumahnya dan akan hadir dalam sesi dialog dengan Bapa Uskup di tempat yang ditentukan, dan Tentunya dengan seluruh keluarga besar WNI eks Tim-Tim yang ada di Bali.

Dalam beberapa sumber literatur yang pernah di baca dengan ditunjang tambahan informasi dari keluarga dan kedua orang tuanya, tentunya si anak sedikit banyak mengetahui rekam jejak Uskup Belo. Dalam sesi dialog bersama Bapa Uskup yang diadakan atas kerja sama dengan konsulat Timor Leste di Bali juga merupakan hal yang ditunggu-tunggu. Dalam kesempatan tersebut, si anak mendengarkan banyak cerita dan pendapat mengenai sejarah lepasnya Timor-Timur dan peran Gereja Katolik di bawah bayang-bayang Uskup Belo.

Usut punya usut ternyata Bapa Uskup Belo setelah Timor Leste merdeka di tahun 2002, Beliau banyak menghabiskan waktu di Portugal bukan di Timor Leste padahal Beliau adalah orang yang juga berperan politik atas lepasnya Timor-Timur waktu itu. Nah, di sinilah muncul pertanyaan baru bagi si anak, mengapa kox tinggal di Portugal, kenapa tidak tinggal di Timor Leste untuk membenahi tatanan gereja?? Ada semacam kegamangan besar atas hal tersebut dalam perasaan dan pemikiran si anak.

Mengetahui hal ini, tentu dalam dialog tersebut si anak merasa sedikit aneh karena Bapa Uskup mengatakan mengapa Beliau tinggal di Portugal karena untuk menulis buku tentang Timor Leste. Alasan yang bagi si anak sangat tidak masuk akal. Mengapa hanya menulis buku sampai tinggal di Portugal?? Padahal Beliau merupakan salah satu pahlawan Timor Leste yang seharusnya saat ini ada kursi pemerintahan atau pun dalam singgasana Gereja Katolik Timor Leste?? Dan ingat bahwa Beliau adalah penerima Nobel Perdamaian Dunia tahun 1990an atas peran gereja Katolik terhadap isu pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Indonesia yang terjadi di Timor-Timur.

Sungguh ironis, tapi ya sudahlah. Bagi si anak mungkin ada hal lain yang sulit dijelaskan, mungkin sama seperti pertanyaan si anak semasa Ia kecil kepada sang ayah, Pa mengapa kita tidak tinggal di Timor Leste saja??

Oleh : Cornelio Aniceto
Still care for you ya….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s