Karena Cintamu karirku Menanjak. Maka Tolong Jangan Tinggalkan Aku

Kala cinta datang, hari pun terasa cepat berlalu, demikianlah beberapa untaian puisi indah yang sedang kudengar di salah satu stasiun radio hari ini. Rasa hati kembali mengingat memori lama ketika pertama kali aku melihat kamu berjalan mambawa tas ransel di salah satu ruangan kampus.

Kita yang ketika itu masih belum kenal, hanya bisa saling tersenyum dari kejauhan sembari mengambil pilu kerinduan yang berat untuk disampaikan. Hingga pada saatnya aku beranikan diri untuk melepas ketakutan dan berkenalan di tempat parkir kampus, ya aku bertanya “boleh kenalan gak” sambil menyodorkan tangan kananku, “Siapa Namamu? Seketika suasana terasa sedikit kaku, tak lama kamu melihatku dan berkata “bukannya koe dah kenal aku ya?”. Aku dalam hati hanya dapat berkata “Oh iya juga ya”, namun kamu menjawab iya namaku Umay.

Semua kenangan masa itu, pada akhirnya hanyalah sisa kehidupan yang cukup manis untuk dikenang. Meskipun sudah di akhir semester, tapi perkenalan itu sangat berarti untuk aku. Sama-sama menggarap tugas akhir adalah juga moment kebersamaan yang nampaknya kalau diinget-inget, hanya akan menimbulkan keinginan untuk kembali.

“Aku tidak memiliki foto tentang kamu,
aku juga tak meminta kontak nomer kamu.
Semuanya cair mengalir seperti waktu perpisahan yang cukup terasa diakhir pertemuan.”

Sampai pada akhirnya ketika waktu perpisahan yang sama sekali aku tak tau. Jika boleh aku sampaikan, maka pada waktu itu akan kuucapkan kalau kita pasti kan bertemu. Karena aku tau kalau kamu sangat luluh dengan ucapan kesedihan. Namun tak begitu maksud hati ini, hanya saja itulah kenyataan yang saat ini kurasakan.

Sekali lagi, gak ada ucapan apa pun ketika terakhir kali aku melihatmu di perpustakaan fakultas. Kamu hanya memanggil namaku, tapi itu hanya guyonan saling berbalik. Jujur waktu itu, aku tidak tau kalau itu adalah waktu terakhir aku bisa melihatmu di kampus dan di jogja yang telah membesarkan kita selama 4 tahun. Dalam benakku saat itu, aku hanya tersenyum dan cukup senang bisa melihatmu lagi.

Seketika akan meninggalkan kampus, baru agak sedikit ngeh kalau umai tadi dimana ya? Perasaan itu baru muncul, karena aku juga baru sadar kalau lagi 4 hari akan kutinggalkan tempat ini. Di sanalah sudah gak tau, agak menyesal nyampur nyeksek juga. Kenapa tadi gak aku tanyakan kapan kamu balik Jakarta? Kapan kita bisa ketemu? dan masih banyak yang ingin aku tanyakan.

Mungkin beginilah hipnotis dari kampus dan temat ini, masih saja membuatku betah di saat-saat terakhit aku melihat orang yang benar-benar aku sayangi. Ohhhh damn sungguh bodoh, rasanya lebih sakit dari ditinggalin pacar atau apalah namanya itu’hmmm bodoh banget”. Rasanya pingin teriak sekenceng-kencennya, tapi baru sadar kalau dia udah pulang.

Sampai hari terakhir ketika besok akan berangkat, masih kuhabiskan waktukku sampai larut malam di kampus. Namun benar kata temen-temen di sini, “buruan bro sebelum telat”.

Tapi aku masih bersyukur, karena hari terakhir aku sempat bertemu dengan salah satu temannya. Di sanalah aku berpamitan dengannya karena Dia juga teman KKNku di Bali. Sambil bersalaman dan ngobrol-ngobrol, aku sengaja meminta nomer hp dia, karena aku tak enak kalau langsung meminta nomer hpne Umay.

Nomer hp temenku itu aku simpan dalam kurun waktu yang lama. Semenjak tiba kembali di rumah, aku sangat sibuk dengan keluarga dan teman-teman yang baru. Tapi untungnya, kurang lebih 6 bulan aku baru ingat-inga lagi dan menghubungi nomer itu, hmmm sangat lama itu. Untungnya masih aktif, langsung saja kami berbincang-bincang dan aku tanyakan “eehh minta donk nomernya si Umay?”. Yaa langsung di kasi aja karena memang masih kangen dan baru bisa ngobrol ni sekarang, jadi ga ada pertanyaan aneh-aneh dari temanku.

Dapat, sudah ada nomernya “kilah dalam benakku”. Namun ada sedikit ketakutan kembali untuk menyapanya, karena malu dan cukup mengerti pembawaanNya. Sampai pada akhirnya, aku hubungi dan iya,, rasanya itu kaget kaget kepolaahh. Hanya tertawa dan menanyakan kabar saja, namun sekali lagi memang cukup bahagia rasanya. Karena yang terpenting memang komunikasi jangan sampai putus, itu aja.

One more I say, bertemu dengannya membuat aku rajin ke perpusatakaan, dan aku cepat menyelesaikan tugas akhirku. Hal ini belum pernah aku sampaikan padanya, karena jujur saat itu dan sekarang ini aku masih ingin berkata “jangan tinggalkan aku”.

Oleh : Cornelio Aniceto
Pecinta humor yang baru aja mandangin foto kamu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s