Seperti Setapak Taman di dalam Perjalanan

Pernah berjalan menyusuri taman, entah taman bunga atau pun taman rekreasi? Jikalau pernah, apakah rumput taman tersebut indah? ataukah sering mendengar istilah rumput jepang. Semoga saya dan anda termasuk dalam bagian yang tak menginjak rumput taman tersebut.

Alasannya sederhana karena ada aturan bagi pengunjung untuk tak menginjaki rumput taman. Selain aturan lainnya yakni membuang sampah pada tempatnya, sebagai pengunjung taman secara tidak langsung kita dituntut untuk menjaga keindahan taman.

Sama halnya dengan kehidupan ini, kita hanyalah pengunjung yang diibaratkan sebagai pengunjung taman. Kehidupan adalah keindahan Tuhan yang diwujudkan melalui taman dan kita manusia diibaratkan sebagai pengunjung taman. Di satu sisi kita berhak menikmati keindahan taman tersebut karena telah membeli tiket atau pun dalam maksud ini adalah telah di berikan Tuhan kehidupan. Namun di sisi lain tentu kita harus menjaga keindahan taman tersebut, kehidupan harus kita jaga dengan tidak menginjak rumput taman melainkan berjalan di atas setapak yang telah dibuat di taman tersebut.

Setapak yang di maksud adalah pijakan bagi langkah kaki dari setiap pengunjung taman. Pijakan yang diberikan Tuhan adalah ajaran-ajaran kebaikannya sehingga manusia dapat menikmati taman tersebut dengan puas dan juga benar. Adakalanya pijakan tersebut sangat banyak sehingga manusia tak jarang juga hanya berjalan memutar-mutari taman saja dan bahkan enggan untuk mengambil pijakan taman yang lebih luas. Kehidupan diibaratkan sebagai taman, di mana manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna di sarankan untuk mempelajari dan bersyukur terhadap keindahan kehidupan.

Hampir dipastikan tidak ada pijakan yang rusak, atau pun tidak adanya pijakan dalam taman kehidupan yang dijanjikan Tuhan. Pijakan tersebut sudah ada dari kita lahir karena masing-masing individu yang lahir ke dunia telah memiliki garis kehidupannya masing-masing. Hanya saja pijakan tersebut di lalui atau tidak oleh kita? Tergantung pada pengertian manusia dalam memahami pijakannya masing-masing.

Oleh : Cornelio Aniceto
Pecinta Humoris yang Baru Aja Mandangin Foto Kamu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s